Setahun Berdiri, UKM Karate "Panen' Prestasi

  • By Super User
  • In Pencapaian
  • Posted 15 Maret 2016

Seperti yang kita lihat, industri manufaktur di Jawa Timur memiliki kinerja yang berfluktuasi. Padahal, sektor industri Jatim menyumbang cukup besar pada GDP Indonesia. Namun apabila kinerja itu naik-turun di saat bangsa ini sedang menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), daya saingnya bisa berdampak berbahaya. Hal itulah yang melatarbelakangi Prof. Dr. Bambang Tjahjadi, CPM, CMA, Ca., bersama Dr. Noor Lailie Soewarno, CMA, Ca., dan Dr. Hariati, CA., membuat penelitian bertajuk “Innovation Strategy Financial Performance Relationship: The Rule of  Human Capital Management Accounting Information and Internal Process Performance as Madiating Variables”.

 

Penelitian itu bertujuan untuk mengetahui apa yang menjadi pemicu kinerja agar tidak berfluktuasi, sehingga industri dapat bertahan terhadap tantangan-tantangan yang bersifat kompetisi global. Paper penelitian yang mengambil tema Sustainability Reporting and Integrated Reporting tersebut dipresentasikan dalam kompetisi Call for Papers: Asia-Pacific Management Accounting Association Conference 2015 pada 26-28 Oktober lalu di Bali dan ditasbihkan sebagai best paper, bersaing dengan 130 paper dari 20 negara di Asia-Pasifik. Konferensi internasional itu ditutup pada 29 Oktober oleh Sekretaris Jenderal Departemen Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dan DIKTI, Profesor Ainun Na’im.

 

Bambang dan dua timnya yang berasal dari universitas lain di Surabaya melakukan penelitian terhadap hal-hal yang memicu kinerja keuangan organisasi. Salah satu pemicu kinerja keuangan organisasi adalah strategi inovasi, management accounting, information system, dan kinerja proses internal. Apabila sebuah perusahaan ingin kinerjanya berkesinambungan, mereka harus mengelola dan memiliki strategi yang inovatif, sumber daya manusia yang kompeten, sistem informasi manajemen yang handal, dan proses yang efektif. Barulah kinerja keuangan perusahaan atau organisasi tersebut bisa dianggap substain.

 

Corporate substainbility atau kesinambungan perusahaan banyak berbicara mengenai lingkungan. Salah satu isu lingkungan yang meresahkan tidak hanya di Indonesia, melainkan di dunia adalah bencana asap. Adanya isu lingkungan seperti itu sangat merugikan dan berdampak buruk. Hal-hal seperti itu yang dibahas oleh enviromental management accounting yang khusus menghitung dampak-dampak lingkungan.

 

“Dampak-dampak lingkungan seperti asap itulah yang menjadi isu dan sedang dibicarakan di dunia saat ini, juga mencoba untuk dikembangkan. Agar perusahaan tidak hanya mengejar laba, juga harus memperhatikan isu-isu yang sifatnya pelestarian lingkungan. Jangan hanya mengejar laba supaya efisien, kemudian membakar hutan,” papar Bambang saat ditemui WARTA.

 

Dosen FEB itu berharap perusahaan di Indonesia dapat memerhatikan kondisi lingkungan sekitar, sehingga bencana asap yang selalu melanda tidak terjadi lagi. Tidak hanya merugikan orang lain, pembakaran yang dilakukan dapat mendatangkan kerugian bagi perusahaan pula.

 

Saat ditanya oleh tim WARTA di ruang diskusi gedung ABC FEB, beliau mengungkap kebanggaannya dapat mewakili Indonesia, termasuk mengharumkan nama Universitas Airlangga, untuk ikut berkompetisi bersama universitas-universitas di negara lain.

 

“Saya senang bisa mengharumkan nama UNAIR. Karena orang UNAIR sebetulnya mampu. Cuma kadang-kadang tak punya waktu atau kesempatan untuk berkiprah secara internasional,” katanya.

 

Ia yakin UNAIR dapat bersaing dengan universitas lain pada level internasional. Hanya saja semangat dan rasa “greget” yang dimiliki masih kurang. Prestasi best paper se-Asia-Pasifik perwakilan UNAIR ini diharapkan dapat mendorong ksatria Airlangga lainnya agar turut mengibarkan nama Universitas Airlangga tidak hanya secara nasional, melainkan internasional. (lov/nui)

Hits 164